Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Gereja di Meksiko Roboh Saat Ibadah, Bocah 10 Tahun Tewas


Mexico City - Seorang bocah tewas dan 28 orang lainnya luka-luka dalam insiden robohnya sebuah gereja di Meksiko. Gereja yang tengah dalam proses pembangunan ini dilaporkan roboh akibat hujan deras.

Seperti dilansir New Straits Times, Senin (30/9/2013), insiden ini terjadi di wilayah Benito Juarez, Nuevo Leon pada Minggu (29/9) pagi waktu setempat. Saat kejadian, kebaktian hari Minggu tengah berlangsung. Tiba-tiba saja gereja bernama Santa Clara de Asis ini roboh.

Walikota Benito Juarez, Rodolfo Ambriz menuturkan, banyak jemaat gereja yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ada sekitar 200 orang jemaat yang mengikuti ibadah pada Minggu pagi.

Para petugas penyelamat yang tiba di lokasi beberapa saat setelah kejadian, berusaha keras untuk menyelamatkan para korban. Sejumlah korban luka-luka dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dilaporkan korban luka dalam insiden ini mencapai 28 orang.

Nahas, seorang bocah laki-laki tewas dalam insiden ini. Sekretaris pemerintah kota Juarez, Jesus Fernandez menuturkan, bocah berusia 10 tahun tersebut meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Namun, tidak disebutkan lebih lanjut identitas bocah tersebut.

"Ini merupakan tragedi, sebuah kecelakaan yang disebabkan oleh hujan yang sangat deras," ucap Fernandez seperti dilansir Reuters.

Menurut penyelidikan awal, robohnya bangunan gereja ini dipicu akibat hujan deras yang terus melanda sejumlah wilayah Meksiko dalam beberapa minggu terakhir. Saat kejadian, dinding gereja sudah berdiri tegak namun atapnya masih ditutupi dengan terpal.
Read More

Pemerintah Pakistan Diprotes Terkait Pengeboman Gereja

Umat Kristen Pakistan berunjuk rasa di Karachi, Senin (23/9/2013), setelah aksi bom bunuh diri ganda di sebuah gereja menewaskan sekitar 80 orang
Umat Kristen Pakistan marah setelah serangan dua pengebom bunuh diri di sebuah gereja tua dan bersejarah. Mereka menggelar unjuk rasa di seluruh Pakistan, Senin (23/9). Mereka menuntut jaminan keamanan yang lebih baik atas minoritas yang belakangan menjadi target kelompok garis keras.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif mengutuk serangan itu. Dia mengatakan, ”Para teroris tidak memiliki agama. Menargetkan orang yang tidak bersalah adalah tindakan yang bertentangan dengan Islam dan agama mana pun. Terorisme mencerminkan kebrutalan dan pola pikir tidak manusiawi para teroris.”

Sekitar 600 orang memblokade jalan raya di Islamabad. Aksi protes juga terjadi di kota lain, seperti Lahore, Karachi, Peshawar, dan Faisalabad. Mereka mendesak pemerintah lebih tegas mengatasi masalah tersebut.

Aksi protes itu terkait dengan serangan di All Saints Church di Peshawar, Minggu. Menteri Dalam Negeri Chaudhry Nisar Ali Khan mengatakan, 81 orang tewas akibat peristiwa tersebut.

Serangan itu adalah yang paling mematikan dari segala serangan terhadap minoritas. Hal itu sekaligus memunculkan gugatan baru tentang efektivitas proses perdamaian dengan milisi yang dirintis Islamabad. Upaya damai itu bertujuan mengakhiri pemberontakan yang berlangsung dalam satu dekade terakhir. ”Insiden ini adalah yang paling mematikan terhadap umat Kristen di negara kita,” kata Uskup Lahore Irfan Jamil.

Ratusan orang menangis, histeris, dan berpelukan satu sama lain setelah ledakan mematikan itu. Mereka saling menghibur setelah mengetahui ada anggota keluarga yang menjadi korban. Darah berceceran dan menciprati dinding serta lantai gereja.

Salah seorang petinggi Pakistan, Sahibzada Anees, mengatakan, serangan ke gereja juga melukai 141 orang. Dua ledakan oleh dua pelaku bom bunuh diri terjadi saat jemaat hendak meninggalkan gereja seusai makan gratis di halaman depan gereja.

”Ledakan itu bagaikan neraka bagi kami semua,” kata Nazir John yang berada di gereja saat kejadian. Gereja terletak di Distrik Kohati Gate. John, yang berada di gereja bersama lebih dari 400 jemaat, mengatakan, asap dan debu mengepul dari gereja.

Kelompok Jundullah

Kelompok Jundullah, salah satu sayap Taliban, mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu. Mereka akan terus menarget minoritas hingga Amerika Serikat menghentikan serangan dengan pesawat tak berawak ke wilayah Taliban.

Serangan pesawat tanpa awak terakhir oleh AS terjadi pada Minggu (22/9). Dua kompleks di wilayah suku Waziristan Utara rusak dan enam orang tewas.

Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus memimpin ribuan orang dalam doa untuk para korban dalam kunjungan ke Sardinia. Paus berkata, ”Pelaku telah mengambil pilihan yang salah; kebencian dan perang.”

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengecam dan menyebut serangan itu ”mengerikan”. ”Dia prihatin atas serangan berulang terhadap minoritas agama dan etnis di Pakistan,” kata Juru Bicara PBB Martin Nesirky.

Ban mengatakan, ”Tindakan teror tidak dapat dibenarkan apa pun alasannya.” Ban menegaskan, solidaritas yang didukung PBB demi perdamaian serta pembasmian terorisme dan ekstremisme harus terus digiatkan. Islamabad agar terus membangun toleransi, memperkuat hubungan antara komunitas agama dan etnis.

Ahmad Marwat, yang mengidentifikasi dirinya sebagai juru bicara sayap Jundullah dari Taliban Pakistan, mengaku pihaknya bertanggung jawab atas serangan itu. Uskup Peshawar Sarfarz Hemphray mengumumkan masa berkabung tiga hari dan menyalahkan pemerintah atas kekerasan terbaru itu.
Read More

Korban Tewas dalam Serangan Bom di Gereja Pakistan Menjadi 81 Orang

Para pejabat di Pakistan menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan ganda bom bunuh diri di luar sebuah gereja bersejarah telah meningkat menjadi 81 orang.
Warga berkumpul di lokasi serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Peshawar, Pakistan (22/9).
Warga berkumpul di lokasi serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Peshawar
Tiga korban tewas lagi dilaporkan hari Senin, sehari setelah bom-bom meledak di Gereja All Saints di kota Peshawar di bagian Barat laut. Para pejabat rumah sakit menyatakan banyak di antara 120 korban luka dalam serangan itu berada dalam kondisi kritis.

Ini merupakan salah satu serangan terhadap warga minoritas Kristen Pakistan yang paling banyak menewaskan korban. Para demonstran memblokir jalan-jalan hari Senin dan berbicara menentang kekerasan, serta menyerukan pihak berwenang agar memberi perlindungan yang lebih baik.

Ratusan jemaat sedang meninggalkan gereja untuk menerima makanan di sebuah lapangan sewaktu dua ledakan terjadi. Di antara yang tewas terdapat 34 perempuan, tujuh anak-anak dan dua polisi Muslim yang bertugas di luar gereja. Warga Kristen memprotes serangan di berbagai lokasi di Pakistan tersebut.

Sebuah kelompok Taliban Pakistan mengaku bertanggungjawab atas pengeboman, dengan menyatakan akan terus menarget non-Muslim hingga Amerika Serikat menghentikan serangan-serangan pesawat tak berawak di wilayah kesukuan terpencil di negara itu.

Para pejabat intelijen Pakistan mengatakan serangan pesawat tak berawak terbaru terjadi hari Minggu sewaktu misil-misil menghantam dua perkampungan di wilayah kesukuan Waziristan Utara, menewaskan enam tersangka militan.
Read More

Kota Sampah Ini Punya Tujuh Gereja Indah dalam Gua

Untuk mencapai biara tersebut, para pengunjung harus melintasi jalur berkelok-kelok melewati tumpukan sampah yang dikumpulkan di desa Zabbaleen - Inhabitat
Untuk mencapai biara tersebut, para pengunjung harus melintasi jalur berkelok-kelok melewati tumpukan sampah yang dikumpulkan di desa Zabbaleen – Inhabitat

Di sebuah kawasan penuh sampah di tenggara Kairo, Mesir, para pemulung membangun tujuh buah gereja cantik. Tak hanya itu, gereja-gereja tersebut dibangun di dalam sebuah bukit batu.
Terletak di bukit Mokattam, gereja-gereja Kristen Koptik ini dibangun oleh orang Zabbaleen, sebuah komunitas pemulung yang hidup dari mengumpulkan dan mendaur ulang 15.000 ton sampah yang dihasilkan oleh 17,8 juta penduduk Ibukota Mesir tersebut.

Orang-orang Zabbaleen menyingkir ke daerah pinggir kota Kairo ini sejak 1969. Setelah mereka membuat rumah baru di Mokattam, mereka berkreasi dengan mengukir biara Santo Simon menuju jalan masuk ke sebuah bukit di dekat rumah-rumah mereka.

Laman Inhabitat menyebutkan, untuk mencapai biara tersebut, para pengunjung harus melintasi jalur berkelok-kelok melewati tumpukan sampah yang dikumpulkan di desa Zabbaleen. Tujuh gereja dan kapel yang tersembunyi dalam serangkaian gua di dalam biara. Katedral Perawan Maria dan Santo Simon merupakan gereja terbesar di kompleks ini.


 Di dalam gua-gua yang luas, ukiran-ukiran indah menghias seluruh permukaan dinding, masing-masing menampilkan nukilan cerita dari Alkitab. Sementara itu, Aula Santo Simon, sebuah ruangan besar yang dapat menampung 2.000 jemaat berada di tingkat atas.

Biara ini juga dilengkapi sebuah pusat pendidikan, area untuk anak-anak, serta sebuah sekolah tuna rungu. Sekarang, biara bawah tanah ini dianggap sebagai salah biara Koptik terbesar di Mesir.
Read More

Bom Meledak di Gereja Pakistan, 78 Orang Tewas


Bom meledak di luar sebuah gereja tua di Peshawar, Pakistan, Minggu (22/09/2013) waktu setempat. Dalam insiden yang terjadi usai misa itu telah menewaskan sedikitnya 78 orang.

Menteri Dalam Negeri Chaudhry Nisar Ali Khan, seperti dilansir dari Antara, mengungkapkan korban tewas mencapai 78 orang terdiri dari 34 wanita dan anak-anak. Sementara 100 orang lainnya terluka.

Insiden berdarah tersebut merupakan serangan paling mematikan terhadap umat Kristen di Pakistan. Beberapa jam usai bom meledak, kelompok militan, TPP Jundullah, mengklaim bertanggung jawab.
Read More

Menengok Masjid-Gereja Berdampingan di Medan


Menengok Masjid-Gereja Berdampingan di Medan

Ada masjid dan gereja yang dibangun berdampingan. Letaknya di Kota Pematangsiantar, Medan, Sumatera Utara. Hal ini menunjukkan kerukunan antarumat beragama di kota tersebut tinggi.

Dua rumah ibadah itu, yakni Masjid Bakti dan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Simpang Pertamin, kilometer 6 Jalan Medan-Siantar, di lingkungan Kelurahan Pondok Sayur, Kecamatan Martoba.

"Kami tidak pernah berselisih. Aman dan hidup damai," ujar pengurus Masjid Bakti, Abdul Muis, usai menunaikan salat, Minggu (21/7/2013).

Dia menjelaskan, umat muslim dan kristiani di lingkungan ini saling menjaga diri dan kesucian ibadah masing-masing. Bahkan saling mendukung jika melakukan kegiatan keagamaan.

Jika ada yang mengalami musibah, lanjut dia, umat saling melayat dan memberi bantuan. "Saat beribadah salat Jumat misalnya, umat kristiani menghentikan aktivitasnya. Kami saling menjaga dan mendukung," sebutnya.

Kerukunan ini tidak saja terjalin di tingkat orang tua. Bahkan anak-anak dan remaja. "Kami sering mengundang remaja kristiani dan mereka datang. Demikian sebaliknya," kata anggota remaja Masjid Bakti Ogin Anggawa, yang tinggal selama 21 tahun di lingkungan ini. (Ant/Riz)
Read More

Lama Tak Terpakai, Gereja Tua di Inggris Jadi Masjid

Lama Tak Terpakai, Gereja Tua di Inggris Jadi Masjid
Sudah lama terbengkalai. Digunakan untuk toko dan pabrik. Kini bangunan itu beralih fungsi. Adalah gereja di wilayah Clitheroe, Lancashire, Inggris, yang diubah menjadi masjid.

Alasan utamanya, karena sudah lama tak terpakai dan banyak warga Muslim di sana yang membutuhkan sebuah masjid untuk beribadah. Semua kalangan sudah mengizinkannya. Benar-benar toleransi beragama yang sungguh harmonis.
Dulu kala, bangunan ini adalah sebuah Gereja Mount Zion. Paling terkenal di Clitheroe, kala itu. Bahkan sempat menjadi lukisan masterpiece karya seniman kenamaan, Laurence Stephen Lowry. Judul gambarnya, 'A Street in Clitheroe' -- Jalan di Clitheroe.



Namun entah mengapa gereja ditutup selama 14 tahun. Beberapa kali gereja ini berubah fungsi menjadi toko amunisi, pabrik kotak logam dan garmen. Sejak itulah, warga Muslim mengajukan gereja tersebut berubah fungsi sebagai masjid sejak tahun 2006.

Meski sempat ditentang banyak pihak, terutama dari anggota partai sayap kanan, Partai Nasional Inggris, yang terkenal rasis, kala itu, pengajuan warga Muslim di sana akhirnya disetujui.
"Dukungan dari beberapa wilayah sangat baik. Kami mendapat reaksi positif dari kelompok antar-keyakinan. Dan masyarakat atheis juga berada di balik proyek ini," ujar Ketua Pusat Pendidikan Islam Media di Lancashire, Farouk Hussain, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (31/7/2013).
Dukungan juga datang dari Kanselir Clitheroe, Jim Shervey. Dia bilang, warga Muslim berhak beribadah di mana pun. Pertentangan sudah berhasil diselesaikan.

"Gedung ini dipakai untuk kepentingan positif. Dan jelas lebih baik digunakan daripada kosong tak terpakai," kata Jim.
Kini 7 tahun telah berlalu. Proses konversi gedung tersebut sudah menginjak tahap akhir. Tinggal dipasang pemanas, lampu, dekorasi dalam, pintu dan jendela. Dana pun masih dikumpulkan.
Indahnya Toleransi

Keindahan toleransi juga terpancar dari Skotlandia, Inggris. Gereja Episkopal St John di Aberdeen yang kuno dan megah memberikan ruangnya untuk Masjid Syed Shah Mustafa Jame yang berada di sebelahnya.

Saat cuaca ramah, tak jadi masalah. Namun kala musim dingin yang disertai angin kencang, para jemaah terpaksa beribadah di tengah cuaca membekukan, di atas trotoar yang kasar.
Melihat kondisi tersebut, Gereja St John membuka pintunya lebar-lebar bagi umat muslim yang ingin menunaikan ibadah salat. Lima kali dalam sehari. Dan terutama saat Salat Jumat. (Riz)
Read More

SEJARAH PERJALANAN PELAYANAN PARA PENDIRI GEREJA PANTEKOSTA DI INDONESIA


Pada tanggal 4 Januari 1921, empat orang mantan perwira Bala Keselamatan, yaitu Richard Dick, Christine Van Klaverans dan Cornelius Groesbeek beserta putra-putri mereka Jennie (12,5 tahun) dan Corie Groesbeek, warga negara Amerika keturunan Belanda berangkat dari Seattle ke Indonesia dengan kapal laut “SUAMARU” ke Yokohama, Osaka, singgah di Cina,setelah itu mereka ke pulau Jawa - Indonesia.

Tanggal 23 Pebruari 1921, mereka tiba di Batavia (Jakarta), dari Jakarta melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dan dengan kapal VARKENBOOT mereka tiba di Singaraja - Bali, pada bulan Maret 1921. Kemudian mereka menginap di Denpasar dalam sebuah Gedung Kopra dengan lantai batu bata yang telah dihancurkan dan atap terbuat dari rumbia.

Letak Gudang ini berada pada suatu Taman yang berseberangan dengan pura Hindu. Gudangnya hanya sebuah rungan empat persegi dimana sebagian ruangan disekat untuk dijadikan 3 kamar tidur. Satu untuk suami istri Groesbeek, satu untuk keluarga Van Klaveren dan satu lagi untuk Jennie dan Corrie. Sisanya merupakan sebuah ruangan besar yang luas, yang berfungsi sebagai ruang tinggal (Living Room), ruang makan maupun sebagai dapur, juga terdapat sebuah kamar mandi.
Dengan penuh kesulitan, mereka mulai menabur benih Injil Sepenuh dari rumah ke rumah. Mereka dengan sepeda mengunjungi desa-desa, berhenti untuk bercakap-cakap dengan penduduk dan menanyakan apakah ada yang sakit. Bila ada, mereka didoakan dan Tuhan menyembuhkan mereka. Mula-mula Tuhan bekerja dengan cara demikian. Orang-orang yang beragama Protestan belum pernah mendengar penyembuhan dengan cara ini atau tentang baptisan air dan kepenuhan Roh Kudus.

Banyak orang-orang yang menpunyai luka bernanah, datang ke rumah mereka, mereka menyobek seprei-seprei lama menjadi semacam perban dan digunakan untuk membalut luka-luka mereka. Di kemudian hari, diketahui bahwa mereka menderita penyakit kusta. Mereka semua didoakan. Karena begitu banyak orang yang datang ke rumah untuk mohon didoakan dan menerima kesembuhan, maka penduduk setempat bermaksud jahat terhadap mereka.

Di depan rumah tersebut terdapat sebuah pagar kecil dan selokan sepanjang jalan. Di atas selokan terdapat sebuah jembatan kecil yang menuju rumah. Hari berikutnya penduduk Bali menceritakan tentang rencana jahat itu terhadap mereka. Mereka tidak dapat melaksanakan rencana tersebut karena mereka melihat malaikat-malaikat yang berdiri di pintu gerbang rumah. Tuhan telah membela mereka.

Apa yang mereka kerjakan disana juga telah mengundang reaksi keras imam-imam Hindu. Hal ini mendorong Pemerintah Belanda melarang hamba Tuhan ini menetap dan menginjil di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Seringkali mereka mengirim agen-agen dari dinas rahasia untuk memata-matai selama kebaktian berlangsung, karena mereka menyangka bahwa mereka adalah orang Bolsjewik. Mereka senang bahwa dengan jalan demikian mereka dapat mendengar kabar Injil.

Keluarga Van Klaveren harus meninggalkan Bali dalam waktu 3 hari. Karenanya, setelah sekitar 21 bulan berada di Bali, ketika menjelang Hari Natal tahun 1922. Kedua kelaurga ini berangkat ke Surabaya, kemudian keluarga Rev. Richard Van Klaverens menuju ke Batavia. Di Surabaya, Rev. Cornelius E. Groesbeek berkenalan dengan Ny. Wijnen yang mempunyai seorang keponakan yang bekerja di BPM Cepu (Shell), bernama F. G. Van Gessel. Dengan Perantaraan Ny. Wijnen yang telah menerima kesembuhan Ilahi lewat pelayanan Rev. Cornelius E. Groesbeek, maka Sdr. Vand Gessel dapat berjumpa dan berkenalan dengan beliau.

Sdr. Van Gessel menyambut hangat Rev. Groesbeek karena memang telah lama dia ingin lebih mengerti dan mendalami Injil yang selama ini dibacanya. Berita Pantekosta disambutnya dengan penuh sukacita, lalu pada bulan Januari 1923 dimulailah kebaktian Pantekosta yang pertama di Deterdink Boulevard, Cepu. F. G. Van Gessel dengan istri, pegawai tinggi BPM memiliki gaji F 800 (800 Gulden), bertobat dan menerima Injil Sepenuh. Kebaktian itu berlangsung terus dengan baik dan jumlah pengunjung bertambah hingga mencapai 50 orang.

Kebaktian di Cepu ini mengalami tantangan keras. Merka diejek, diolok dan dituduh sebagai aliran yang menyesatkan. Ds. Hoekendijk menegaskan bahwa kebaiktian Pantekosta yang di Cepu dan mujizat yang terjadi di dalamnya berasal dari Setan. namun demikian, Tuhan bekerja luar biasa. Tiga bulan kemudian pada tanggal 30 Maret 1923 terjadi suatu peristiwa penting yang menjadi salah satu tonggak sejarah Gereja Pantekosta di Indonesia. Benih Injil Sepenuh yang ditabur dengan linangan air mata sejak Maret 1921 di Bali, mengeluarkan buah pertama dengan diadakannya baptisan air di Pasar Sore Cepu dan jumlah yang dibaptis sebanyak 13 orang. Baptisan ini dilakukan oleh Rev. Cornelius E. Groesbeek dan dibantu oleh Rev. J. Thiessen, seorang misionaris dari Belanda. Di antara 13 orang itu terdapat suami Istri F. G. Van Gessel, suami istri S.I.P. Lumoindong dan Sdr. Agust Kops.

Antara tahun 1923-1928, jemaat di Cepu menghasilkan tidak kurang dari 16 hamba Tuhan yang menjadi pioner-pioner Gereja Panekosta di Indonesia dan kemudian menyebar ke Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Diantara mereka adalah F. G. van Gessel, S.I.P. Lumoindong, W. mamahit, Hessel Nogi Runkat, Effraim Lesnussa, Frans Silooy, R. O. Mangindaan, Arie Elnandus Siwi, Julianus Repi, Alexius Tambuwun, G. A. Yokom dan J. Lumenta.

Pada tanggal 19 Maret 1923, berdirilah Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie yang berkedudukan di Bandung dengan susunan pengurus sebagai berikut : Ketua:Pdt. D.H.W. Weenink, Van Loon, Sekretaris : Pdt. Paulus, Bendahara: Pdt. G. Droop. Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku dan Irian.di adalah daerah Kristen, karena mayoritas penduduknya beragama Kristen. Gereja Masehi Injil Minahasa (GMIM) adalah gereja terbesar diseluruh pelosok Minahasa. Namun Injil sepenuh melalui Pinksterkerk (sekarang GPdI) kemudian masuk menembus pelayanan di daerah ini. Kedatangan mereka telah diketahui terlebih dahulu oleh beberapa anak Tuhan karena Tuhan telah memberitahukan kedatangan mereka melalui nubuat yang diucapkan oleh Sdr. D. Kalangi. tanggal 14 Maret 1929, mereka tiba di Langowan dan diterima dengan sukacita oleh Keluarga W. Saerang.
Langowan sebuah kota kecamatan mendapat kehormatan Injil Sepenuh melalui pemberitaan Pinksterkerk. Kebaktian perdana dihadiri oleh 40 orang. Tuhan bekerja dengan heran. Sdr. W. Saerang mendapat kepercayaan Tuhan karena Injil Pantekosta diberitakan dirumahnya. Pada kesempatan itu Sdr. Alexius Tambuwun pulang ke kampung halamannya di Tambelang dan Sdr. Julianus Repi ke Ranomea, maka masing-masing tempat tersebut mereka juga memberitakan Injil Sepenuh. Pada Tanggal 1 Desember 1929 diadakan baptisan air perdana bagi mereka yang telah percaya Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Baptisan Air ini diikuti oleh 42 orang yang terdiri dari 14 orang dari langowan dan 28 orang dari Ranomea - Amurang. 8 Nopember 1929, Keluarga J. Lumenta tiba dari Surabayadan mendarat di Pelabuhan Amurang, dan pada bulan yang sama tiba pula Sdr. E. Lesnussa dan pada awal tahun 1930 datang pula hamba Tuhan Keluarga Albert Jocom. Barisan utusan-utusan Allah untuk pemberitaan Injil di Sulawesi Utara menjadi kuat. Mereka menyebar ke berbagai pelosok Minahasa dan memberitakan Injil dalam kuasa dan urapan Roh Kudus. Tahun 1933 datang pula Pdt. Runtuwailan dan Sdr. L.A. Pandelaki ke Sulawesi Utara untuk memperkuat barisan hamba-hamba Allah.

Pada tahun 1930, tiga dara dari Seattle memenuhi panggilan Tuhan menjadi penginjil di daerah Jawa dan Kalimantan. gadis-gadis muda ini adalah Inice Presho, Iris Bowe dan Eileen English. Setelah beberapa saat di Magelang, kemudian mereka melayani kebaktian rumah-ke rumah di Solo. Inice Presho kemudian mengadakan pelayanan di Surabaya. Juga di tahun 1931, Louis Johnson dan Arland Wasell berlayar dari Bethel temple dan melayani di Kalimantan, mereka menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pulau tersebut melebihi dari penginjil-penginjil lain yang pernah lakukan sebelumnya. Tapi akhirnya mereka terpaksa kembali ke Jawa karena Arland Wasell sakit malaria, dan Inice Presho yang memang juru rawat mengasuhnya. Arland hampir tidak mampu sampai ke rumah karena lelahnya perjalanan dengan kereta api dari Surabaya. Ouis Johnson ternyata mengadakan hubungan dengan Eileen English dan bertunangan pada hari Valentin di tahun 1933, yang kemudian diteruskan dengan pernikahan di Magelang dan pesta diadakan di Solo. Corrie Groesbeek memainkan piano untuk acara yang berbahagia tersebut.

Pelayanan Keluarga Groesbeek periode ke 2 berlangsung selama 8 tahun, yaitu Agustus 1930 sampai Oktober 1938. Keluarga Groesbeek kembali ke rumah mereka pada tahun 1926 dan kembali ke pulau Jawa untuk perjalanan yang kedua di tahun 1930. (jf-pn)


Artikel ini diambil dari beberapa sumber buku dan pengolahan data, misalnya:
1. Yerusalem:  Kota dan Darah, oleh Pdt. DR. Nicky Sumual (Gembala Sidang GPdI di Sario - Manado dan Rektor ITSI Manado),
2. Sejarah Pergerakan Pentakosta, oleh Pdt. Dr. Steven Talumewo., M.Th (mantan Dosen STT Bethany)
3. Retak atau Pecah: Kasatuan Pentekosta, oleh Prof. Dr. Kelth Warrington,D.D. (diterjemahkan Nopember 2008)
4. Beberapa cerita lisan dari beberapa Pendeta Senior GPdI, misalnya:
~ Pdt. Emmy Rundengan - Tenzer (Gembala Sidang GPdI Jl. Kasuari 2 - Denpasar, Ketua Penasehat MD GPdI Bali),
~ Pdt. Dolfie Memah (Gembala Sidang GPdI Tabanan , Ketua MD GPdI Bali),
~ Pdt. JMP Batubara (Gembala Sidang GPdI Jl. Rajawali 92 - Surabaya)
~ Pdt. Benyamin Manoah (Gembala Sidang GPdI Jl. Kapasari - Surabaya)
~ Pdt. Christoffel A da Costa (Wakil Gembala Sidang Gereja Bethany - Surabaya)
~ Pendeta-pendeta yang lainnya.
Read More

Sejarah Gereja Aliran Pantekosta di Indonesia


Anda bergereja di GBI, GPPS, GIA, GPI, Gereja BETHANY, Gereja Tiberias, atau gereja beraliran Pantekosta lainnya? Tahukah anda bahwa gereja anda itu secara organisatorial dulunya berinduk di Gereja Pantekosta di Indonesia?

1919. Dua pasang suami istreri, Richard Van Klaveren dan Cornelis E. Croesbeek mendapat penglihatan dalam suatu kebaktian di Betle Temple Meeting, di tepi Green Lake, Seatle, Washington, Amerika Serikat. Penglihatan tersebut, bahwasanya mereka diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Nedherland Oost Indie (sekarang Indonesia)

4 Januari 1921. Richard Van Klaveren dan Cornelius E.Croesbeek, berangkat dari Amerika menuju Indonesia dengan kapal laut Suamaru, jurusan Yokohama, Osaka, Hongkong, membawa keluarga mereka masing-masing.

Maret 1921. Richard dan Cornelius tiba di Batavia (Jakarta). Langsung menuju Bali melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dengan kapal Varkenboot. Di Pulau Dewata
ini mereka kemudian memberitakan Injil selama 21 bulan, karena dilarang oleh pemerintah Belanda. Alasannya, takut merusak kebudayaan Bali.

Desember 1922. Tinggalkan Bali dan kembali ke Batavia / Jakarta. Berkenalan dengan Mrs. Wijnen, yang bercerita bahwa ia mempunyai seorang keponakan di Cepu, Jawa Timur, bernama F.G Van Gessel.

Januari 1923. Richard & Cornelius menuju Cepu. Di sinilah pertama kali kebaktian yang diberi nama Gereja Pantekosta dimulai. Tepatnya di DeterdinkBoulevard Cepu. Oleh pemberitaan Injil Pdt.Richard Van Klaveren dan Pdt. Cornelius E. Croesbeek, keluarga F.G Van Gessel menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Pada Bulan itu, kebaktian sudah dikunjungi 50 Orang.

19 Maret 1923. Berdirinya Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Gereja Pantekosta di Indonesia-GPdI)

30 Maret 1923. 13 orang dibaptis selam di PasrSore Cepu, yang merupakantonggak sejarah Gereja Pantekosta terpancang. Baptisan dilakukan oleh Pdt. Cornelius dan Pdt. J. Thiessen. F.G Van Gessel dan isteri adalah dua dari 13 orang yang dibaptis tersebut. Lainnya adalah S.I.P Lumoindong berserta isteri dan Agust Kops.

30 Juni 1923. Badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat.

1931 Zs. M.A Alt, keluar dari GpdI dan mendirikan Pinkster Zending.

1932. Pdt. Thiessen, keluardari GPdI dan mendirikan Pinkster Beweging, yang kini dikenal dengan nama Gereja Gerakan Pantekosta.

4 Juni 1937. De Pinkstergemeente diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Greja) dengan Beslit No.33, Staatblad No.368

1941. Pdt. D. Sinaga, keluar dari GPdI dan mendirikan Gereja Pantekosta Sumatera Utara (GPSU)

1942-1946. Terjadi regenerasi kepengurusan GPdI yang dipegang oleh putra bangsa.
Ketua: H.N Runkat Anggota: S.I.P Lumoindong, R.M Suprapto dan R.O Tambunan

1946. Pdt. Tan Hok Tjwan, keluar dari GPdI dan mendirikan Sing Ling Kau Hwee, yang kini dikenal dengan nama Gereja Isa Almasih (GIA)

24 Juli 1947. Musyawarah Nasional I (Munas I) GPdI di Jakarta. Pengurus yang terpilih adalah: Ketua: H.N. Runkat. Anggota: E. Lessnusa dan J.D. Syaranamual Dll.

1949. Pdt. Renatusa Siburian, keluar dari GPdI dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara.

9-12 Januari 1952. Rapat Majelis Agung di Makassar, membahas perpecahan yang terjadi, karena beberapa pendeta keluar dari Gereja Pantekosta lalu mendirikan organisasi serupa.

1952. Pdt. T.G Van Gessel, keluar dari GPdI dan mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)

1959. Pdt.Ishak Lew, keluar GPdI dan mendirikan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS)

1966. Pdt. Karel Sianturi & Pdt. Sianipar, keluar dari GPdI, mendirikan Gereja Pantekosta Indonesia Sumatera Utara (GPISU). Pdt. Korompis, keluar dari GPdI dan mendirikan Gereja Pantekosta Indonesia (GPI)

1957-1969. GPdI mengadakan Munas sebanyak 3x, dengan Ketua oleh Pdt. E. Lessnusa yang mempimpim organisasi tersebut selama 3 periode berturut-turut. Setelah itu diadakan lagi 2x Munas dan E. Lessnusa tetap sebagai Ketua.

1970-1976. Terjadi 3x Munas GPdI , dengan Ketua adalah Pdt. L.A. Pandelaki, disusul Pdt. W.H. Bolang, memimpin selama dua periode.

1965-1970. Pdt. Hoo Liong Seng atau lebih dikenal dengan Pdt H.L Senduk keluar dari GPdI dan kemudian mendirikan gereja Bethel Indonesia (GBI)

1980-2002 Munas XXIV GPdI di Malang Sistem kepemimpinan disesuaikan dengan AD/ART yang telah disempurnakan. Dalam Munas tersebut terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pdt. A.H.Mandey. Lalu terus terjadi Munas/Mubes, dan Pdt. A.H. Mandey terus terpilih sebagai Ketua Umum hingga hari ini.

2002-2006 GBI (Gereja Bethel Indonesia) pecah lalu lahirlah dua sinode baru masing-masing Gereja Bethany Indonesia dan Gereja Tiberias Indonesia (GTI).

Perpecahan di dalam Gereja termasuk di Gereja Pantekosta di Indonesia terjadi seiring semakin majunya organisasi gereja. Faktor ketidakcocokan, salah pengertian, berbeda interpreatasi ayat firman Tuhan serta dogma lainnya merupakan pangkal terciptanya perpecahan itu. Meski sudah keluar dari organisasi GPdI dan mendirikan organisasi gereja yang baru, namun ternyata banyak organisasi gereja itu seperti GIA, GPPS, GBI, Gereja Bethany serta GTI dan GPI maju dan bekembang.
Read More

GUBERNUR JATIM MEMBUKA MUBES VII PGPI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiteZWVPASxGXMJNwb5KLuv1EFT10Ihimq0RumhxLOaLhezivnZL4o5tgJgFlK7h3RHICCCxcXMnBY1Ud6QL8XaElGiAW1XjIrmmZZtxAUO8uMje79aE6KkcqtwL7rm1PoV66_Me5-DiP8/s320/Gubernur+Soekarwo+menyalami+peserta+Musyawarah+Besar+VII+PGPI+di+H.Garden+Palace+Sby-720481.JPG
Peran tokoh agama, baik ulama maupun pendeta adalah membangun akhlaq. Sedangkan tugas pemerintah meningkatkan kesejahteraan. Tidak ada manfaatnya kesejahteraan yang meningkat kalau akhlaqnya tidak baik. Begitu pula jika akhlaq bagus tapi tidak cerdas mudah ditipu. Tetapi kecerdasan yang baik jika tidak diimbangi dengan akhlaq yang baik akan menemui kehancuran.

Hal itu ditegaskan Gubernur Jatim Pakde Karwo pada pembukaan  Musyawarah Besar ke VII Persekutuan Gereja-geraja Pentakosta Indonesia (PGPI), di Garden Palace hotel Jl Yos Sudarso no 11 Surabaya, Selasa (10/9) malam.

Menurut Pakde Karwo, dalam demokrasi yang penting adalah membangun moralitas, meningkatkan kesejahteraan, dan fungsi kontrol. Ketiga konsep tersebut harus saling berkaitan satu sama lain. “Moralitas menjadi basis untuk meningkatkan kesejahteraan. namun tetap perlu ada kontrol dalam pelaksanaannya. moralitas itu sangat penting. kalau moralitasnya bagus, maka seseorang tidak akan berani melakukan tindakan yang negatif. dengan demikian, kesejahteraan dapat terwujud,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, perlu diletakkannya musyawarah mufakat sebagai inti pelaksanaan demokrasi. jalan terbaik dalam setiap penyelesaian masalah adalah dengan komunikasi dan musyawarah mufakat. ini warisan budaya yang wajib dijaga.  sehingga dengan musyawarah mufakat dapat dihasilkan keputusan yang lebih demokratis dan dapat diterima oleh semua pihak. “Musyawarah adalah bagian dari pluralisme yang harus dibangun,” tambahnya.

Apalagiperkembangan sekarang ini, ada aliran yang serba boleh, tapi ada juga aliran yang semua serba dilarangatas nama Tuhan. Yang semua dilarang/ liberal gejalanya luar biasa. “Kerukunan menjadi bagian penting, keselamatan berdasarkan kepentingan agama,” katanya.

Dicontohkan, kasus sampang. Menurutnya, Sampang bukan permasalahan agama, tetapi sepenuhnya problem kultural dan masalah keluarga.  Jangan memasukkan semua permasalahan hanya dari ukuran agama. Masalah kultur harus dimasukkan. Hal ini  terkadang menyebabkan salah paham dan paham salah. Tetapi pendidikan seseorang juga mempengaruhi persepsi pemahaman sesuatu. Nilai tidak bisa dikuantifikasi bahwa yang banyak adalah baik. Oleh sebab itu jangan rendah hati dan tidak perlu khawatir tentang minoritas, karena values itu yangmemimpin tentang kebenaran, namun demikian diperlukan komunikasi yangbaik. “Kalau komunikasi/ dialog tidak bagus maka yang terjadi adalah salah persepsi.

Dialog tokoh agama memerlukan kualifikasi yang sama-sama mengerti tentang agama, tidak bisa berjalan dengan baik jika yang satu sangat fanatis. Fanatisme terhadap suatu paham bisa dikurangi dengan kesejahteraan,” lanjut Pakde.

Dijelaskan, dari data statistik, konsumsi di Jatim Rp. 660 Triliun, dari jumlah itu sebesar Rp 310 Triliun untukkonsumsi non makan, yang paling tinggi untuk cicilan sepeda motor, peringkat kedua pulsa dan ketiga, life style perempuan. “Disinilah peran pendeta untuk membuat dialog buntu adalah perilaku menyimpang seperti ini. Dia mengerti tapi tidak paham. Culture shock terhadap OKB. Pendeta tidak hanya ceramah tapi harus menemani.

Ada 493 ribu RTSM diJatim.kesalahan paling substansif memaksakan pemikiran kita untuk menyelesaikan permasalahan bagaimana orang miskin diajak merumuskan menyelesaikan permasalahan mereka. Selain itu ada 9.217 Rumah tangga jompo dan cacat yang usia 65 tahun keatas selama hidup diberi 150 ribu / bulan dan beras 20 kg/ bulan Pemprov mengeluarkan dana Rp 43 miliar per tahun untuk masalah ini, akrena orang miskin tanggung jawab negara.

“Saya usul, dalam Mubes ini dapat menyusun program yang berkaitan dengan ahlak, yaitu dengan mengajak mereka yang sepi ke tempat yang ramai. Dekati mereka dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Belum tentu orang miskin itu kebutuhannya hanya masalah keuangan dan makanan. Ada yang miskin karena sepi di tempat ramai. Karena bersuara tapi tidak ada yang mendengarkan sama sekali,” katanya.

Ketua panitia Charles Simamora, T.Th, MA mengatakan, Mubes yang berlangsung 10 – 12 September ini untuk membahas laporan pertanggung jawaban, menyusun program, dan memilh pengurus baru.

“Pergantian pengurus melalui musyawarah besar sebagai forum tertinggi kepengurusan tingkat pusat ini diharapkan dapat dilaksanakan secara demokratis menurut mekanisme yang sudah ditetapkan dan disepakati bersama,” ujarnya.

Mubes diikuti 400 orang ini terdiri dari pengurus pusat PGPI, Majelis pertimbangan rohani PGPI, Pimpinan Sinode Gereja anggota PGPI, Ketua Pengda Provinsi PGPI se Indonesia, pengurus PESATPIN, dan lain-lain.
Read More

Presiden Pantekosta Sedunia Akan Hadiri Mubes VII PGPI

Rapat Musyawarah besar (Mubes) ke VII Persekutuan Gereja – Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) pada 10 sampai 12 September 2013 mendatang memasuki tahap akhir.

Rapat yang diikuti oleh seluruh panitia yang bertanggung jawab atas kelangsungan mubes ini berlangsung Selasa pagi (03/09) di Gereja Tabernakel Inonesia Bukit Zaitun kawasan Jalan Taman Simpang Surabaya.

Dipastikan pada Mubes mendatang selain dihadiri para pengurus PGPI pusat dan para utusan dari sinode – sinode anggota PGPI juga akan dihadiri Presiden Pantekosta sedunia Ps Prince Guneratnam.
Rencananya di tanggal 11 September nanti Ps Prince Guneratnam dijadwalkan akan menjadi pembicara dalam Kebaktian Kebangunan Rohani yang masih dalam rangkaian Mubes.
Read More